-->

Sholat Berjamaah dengan Merenggangkan Shaf di Masa Pandemi COVID-19 Sah atau Tidak?

Assalamu'alaikum Wr.Wb

1. PEMBAHASAN    

     Sobat Blogger pada akhir tahun 2019 yang lalu dunia digemparkan dengan munculnya sebuah virus yang berbahaya  dan menyerang system pernepasan manusia. Virus ini pertama kali muncul di Wuhan, China yang penyebarannya begitu cepat hingga sampai ke Negara-negara dihampir seluruh penjuru dunia. Virus ini disebut dengan COVID-19 (Coronavirus Disease-2019) atau masyarakat sering menyebutnya dengan virus Corona.
    Virus Corona ini menyebar begitu cepat hingga sampai ke Negara kita Indonesia pada awal tahun 2020. Ketika virus ini masuk ke Indonesia, masyarakat belum terlalu peduli dengan virus Corona ini, dikarenakan baru beberapa orang saja yang terjangkit. Namun, dalam waktu singkat virus ini menyebar luas hingga sampai seluruh kota di Indonesia dan menyebabkan masyarakat begitu panik. Karena penyebaran dari virus Corona ini begitu cepat, pemereintah pun mengeluarkan surat edaran yang berisi pesan pembatasan aktivitas dan disarankan untuk tetap dirumah saja dalam beberapa hari. Kebijaan tersebut berlaku untuk seluruh masyarakat di Indonesia, mulai dari pedagang, karyawan, guru, pelajar, maupun masyarakat sipil, dan masyarakat-masyarakat yang lainnya.
    Virus Corona ini memberikan dampak yang cenderung merugikan dengan skala sangat besar dalam semua sector. Dampak tersebut mulai dari ekonomi, pendidikan, pembangunan infrastuktur, dan lain sebagainya. Dampak yang paling terasa dari pandemi COVID-19 ini yaitu pada sector perekonomian kecil. Seperti pedagang kecil yang menggantung hidupnya dari penghasilannya dari berdagang kini menjadi sepi dan berkurang pendapatannya, karyawan dan buruh banyak yang di rumahkan dan menjadi pengangguran dikarenakan pendapatan perusahaan yang menurun.
    Tidak hanya pembatasan aktifitas pada saat pemdemi ini  berdampak pada ekonomi dan pendidikan saja tetapi ritual keagaaman seperti sholat berjamaah di masjid juga terdampak. Pemerintah mengeluarkan himbauan mengenai protokol kesehatan untuk meminimalisir penyebaran virus Corona ini dengan Istilah 3M. Yang pertama adalah memakai masker. Penularan virus ini yaitu melalui pernafasan dan air liur oleh karena itu menggunakan masker bisa mencegah penularan yang melalui hidung dan mulut. Kedua yaitu dengan mencuci tangan dengan menggunakan air mengalir dan sabun atau menggunakan antiseptic seperti handsanitizer.
    Yang terakhir menjaga jarak dengan orang lain, karena virus ini bisa menular melalui kontak fisik dan bisa menular melewati udara maka pemeritah menghimbau untuk menjaga jarak. Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI mengeluarkan himbauan kepada seluruh Umat Islam khususnya untuk menyelenggarakan ibadah di rumah untuk sementara waktu tanpa menyebut secara rinci ibadah sholat Jumat di dalamnya. Dalam hal ini pengurus atau takmir masjid berbeda pendapat dan kebijakan antara melaksanakn sholat berjamaah baik sholat Jum’at dan sholat Fardhu lainnya, atau meniadakannya dan menggantinya dengan sholat berjamaah bersama keluarga di rumah. Dalam situasi seperti ini kita pasti bingung idealnya untuk mengikuti himbauan dari pemerintah sesuai kaidah fiqih “Hukmul hākim yarfa‘ul khilaf” atau mengikuti putusan pemerintah dengan menyudahi perbedaan.
    Namun terlepas dari hal tersebut, tetap saja masih ada pengurus masjid yang ingin menyelenggarakan Shalat Jumat berjamah sebagaimana biasa. Kehendak mereka tidak dapat dicegah. Kami menyarankan pengurus masjid dan jamaah yang tetap bersikukuh untuk menyelenggarakan ibadah Jumat mengikuti petunjuk teknis dari Bimas Islam Kemenag dan tetap memperhatikan standar kemananan medis.
Dalam standar kemanan medis disini salah satunya yaitu menjaga jarak dengan merenggangkan shaf antara satu jama’ah dengan jama’ah lainnya. Banyak masjid saat ini yang memberikan tanda untuk menjaga jarak shaf dengan memberikan tanda. Lantas bagaimana pandangan Islam mengenai hal ini dalam Kajian ilmu fiqih.

2. PENDAPAT

A. Kontra
    Seperti yang kita ketahui bersama khususnya umat Islam, bahwa syarat sempurnanya sholat salah satunya dengan meluruskan dan merapatkan shaf. Lantas, bagaimana hukumnya sholat berjamaah dengan shaf berjarak?. Banyak hadits ataupun dalil yang menyebutkan keutamaan merapatkan shaf ketika sholat berjama’ah tersebut, salah satunya yaitu sebuah hadits yang berbunyi,

وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْوُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْوِ وَسَلَّمَ – : )) سَوُّواصُفُوفَكُمْ ؛ فَإنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ (( مُتَّ فَقٌ عَلَيوِ))
وَفىِ رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِي : فَإنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إقَامَةِ الصَّلاَةِ))

    Artinya : “Anas radhiyallahu „anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat.” (Muttafaqun „alaih) [HR. Bukhari, no. 723 dan Muslim, no. 433]. Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan, “Karena lurusnya shaf termasuk mendirikan shalat. (Nasir, 2020:31)
    Dari hadits tersebut diatas sangat jelas disebutkan bahwa merapatkan dan meluruskan shaf itu merupakan syarat untuk mencapai kesempurnaan dalam sholat. Sehingga jika kita melihat dari hadits tersebut, maka sholat berjama’ah dengan merenggangkan shaf tidak akan dapat mencapai kesempurnaan sholat.
    Kemudian, ada juga hadits lain yang membahas sempurnanya sholat dengan merapatkan shaf.

 عَنْأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالأَعْنَاقِ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنِّى لأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ ».

    Artinya: Dari Anas bin Malik, dari Rasulullah saw bersabda: “Rapatkan shaf kalian, dekatkanlah barisan kalian, luruskan pundak dengan pundak. Demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Sungguh aku melihat setan masuk di sela-sela shaf, seperti anak kambing”. (Hasibuan & Yusram, 2020:5)

 2. Pro

    Namun, Islam adalah agama yang Rahmatan Lil ‘Alamiin yang mana rahmat bagi seluruh umat. Selain itu, prinsip Maqasit al-Syariah yang mengatakan bahwasanya tujuan dari agama yaitu menjaga keselamatan jiwa, agama, akal, keturunan, dan harta benda. Dan juga Fiqih adalah disiplin ilmu yang mana dapat menyesuaikan ruang dan waktu, serta situasi dan kondisi. Maka dari itu, dalam kondisi pandemic seperti saat ini pemerintah dalam hal ini Kementrian agama, Komisi Fatwa MUI, maupun Lembaga Bahtsul Masail PBNU, mengeluarkan fatwa dalam beribadah khususnya sholat berjama’ah untuk sementar waktu, guna meminimalisir penularan virus Corona.
    Terlepas dari hal itu, merapatkan shaf bukanlah rukun dan syarat sah sholat, melainkan sebagai penyempurna sholat berjama’ah. Sebagaimana sebuah hadits yang artinya:
    (Dari sahabat Anas RA, Rasulullah bersabda, „Susunlah shaf kalian‟) sehingga tidak ada celah dan longgar (dekatkanlah antara keduanya) antara dua shaf kurang lebih berjarak tiga hasta. Jika sebuah shaf berjarak lebih jauh dari itu dari shaf sebelumnya, maka hal itu dimakruh dan luput keutamaan berjamaahsekira tidak ada uzur cuaca panas atau sangat dingin misalnya,”. (Nasir, 2020:33)
    Berdasarkan hadits diatas pada dasarnya posisi makmum yang berdiri terpisah dalam shalat berjamaah (termasuk Jumat yang wajib dilakukan berjamaah) termasuk makruh. Sehingga, jika sholat berjamaah dengan merenggangkan shaf dihukumi makruh. Seperti yang diketahui bahwa makruh yaitu hukum dimana ketika melaksanakan suatu hal tidak berdosa, dan jika meninggalkan lebih baik dan berpahala. Selain itu, ada juga sebuah hadits yang mana menyebutkan bahwasanya merapatkan shaf ketika sholat berjamaah adalah sunnah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhori yang berbunyi,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ ابْنُ أَبِي رَجَاءٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ بْنُ قُدَامَةَ قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ حَدَّثَنَا أَنَسٌ قَالَ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَأَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي

    Para fuqahâ’ atau ahli fiqih memahami bahwa perintah dalam hadits tersebut adalah perintah sunnah, bukan perintah wajib. Artinya tindakan merenggangkan shaf sebagai kebalikan dari upaya merapatkan shaf yang diperintahkan bukan keharaman, melainkan makruh. Status makruh pada masalah ini adalah makruh yang ringan, bukan yang berat.

C. Hasil dan Kesimpulan

    Sholat Fardhu berjama'ah di Masjid terutama memiliki derajat pahala yang sungguh luar biasa bahkan sampai 27 kali lipat dibandingkan ketika sholat sendirian. Kemudian, kesempurnaan sholat berjamaah dapat diraih dengan cara merapatkan shaf ketika sholat seperti didalam sebuah hadits 

وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْوُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْوِ وَسَلَّمَ – : )) سَوُّواصُفُوفَكُمْ ؛ فَإنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ (( مُتَّ فَقٌ عَلَيوِ))
وَفىِ رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِي : فَإنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إقَامَةِ الصَّلاَةِ))

    Artinya : “Anas radhiyallahu „anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat.” (Muttafaqun „alaih) [HR. Bukhari, no. 723 dan Muslim, no. 433]. Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan, “Karena lurusnya shaf termasuk mendirikan shalat. (Nasir, 2020:31)

    Akan, tetapi dalam kondisi pandemi seperti saat ini yang paling ditekankan untuk menekan penularan virus Corona salah satunya dengan menjaga jarak fisik atau physical distancing. Tentu dengan hal itu merapatkan shaf ketika sholat berjamaah tidak bisa diterapkan seperti anjuran dari Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI mengeluarkan himbauan kepada seluruh Umat Islam khususnya untuk menyelenggarakan ibadah di rumah untuk sementara waktu tanpa menyebut secara rinci ibadah sholat Jumat di dalamnya. Lantas bagaimana hukumnya melaksnakan sholat berjamaah dengan meranggangkan shaf di masa pandemi ini? Sah atau Tidak?.

    Untuk menjawab persoalan ini perlu ditinjau dari beberapa sumber diantaranya:

    Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhori yang berbunyi,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ ابْنُ أَبِي رَجَاءٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ بْنُ قُدَامَةَ قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ حَدَّثَنَا أَنَسٌ قَالَ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَأَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي

    Para fuqahâ’ atau ahli fiqih memahami bahwa perintah dalam hadits tersebut adalah perintah sunnah, bukan perintah wajib. Artinya tindakan merenggangkan shaf sebagai kebalikan dari upaya merapatkan shaf yang diperintahkan bukan keharaman, melainkan makruh. Status makruh pada masalah ini adalah makruh yang ringan, bukan yang berat. Fuqahā muta’akhkhirīn menamakan makruh jenis ini dengan khilāful awlā, yakni suatu larangan yang tidak memiliki acuan dalil secara langsung melainkan larangan yang digali atau dipahami dari perintah sunnah,

    Kemudian penulis mengambil salah satu pendapat yang bersumber dari kitab Tuhfah al-Muhtaj yaitu:

إنْ كَانَ تَأَخُّرُهُمْ لِعُذْرٍ كَوَقْتِ الْحَرِّ بِالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَلَا كَرَاهَةَ وَلَا تَقْصِيرَ – (الحر) أي ونحو المطر قوله: (فلا كراهة إلخ) أي فلا تفوتهم الفضيلة

    “Jika para jamaah mengakhirkan shaf shalatnya karena uzur, seperti melaksanakan shalat pada musim panas di Masjidil Haram, maka hal demikian tidak dihukumi makruh dan tidak dianggap ceroboh. Sama halnya dengan alasan terkena air hujan atau hal-hal semacamnya. Ketidakmakruhan ini memastikan tidak hilangnya keutamaan shalat jamaah,” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 8, hal. 157)

    Berdasarkan kedua sumber diatas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa melaksanakan sholat berjamaah dengan merenggangkan shaf tetap dianggap SAH sholatnya, karena merapatkan shaf sebagai syarat sempurna sholat berjamaah dan dihukumi sunnah, dan bukan merupkan bagian rukun sholat. Apalagi dalam situasi pandemi seperti saat ini. Situasi pandemi seperti saat ini menjadi uzur atau alasan yang dapat dibenarkan oleh syariat Islam untuk merenggangkan shaf sholat. 

Wallahu A'lam 

Semoga artikel ini bermanfaat untuk penulis pribadi, dan sobat blogger nisanfillah.com umunnya.

 
Wassalamu'alaikum Wr.Wb


Jangan lupa untuk membaca juga artikel dari kami berikut

Baca Juga: Strategi Pembelajaran Akidah Akhlak di Masa Daring Covid-19

Tidak ada komentar:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel